Tahu nggak sih? Dibalik panasnya polemik kertas sebagai penyebab pemanasan global, banyak peneliti yang sedang mengembangkan kertas ramah lingkungan. Para peneliti tersebut sadar bahwa ada jutaan pohon serta lahan hutan yang jadi korban dalam industri pulp dan paper. Tidak hanya itu saja, industri pulp dan kertas jadi salah satu penyumbang terbesar emisi gas CO2 sebagai pemicu pemanasan global.
Aku jadi ingat salah satu dosenku yang peduli sekali terhadap lingkungan sampai di titik ujian atau tugas dari beliau selalu paperless. Suatu ketika beliau pernah berkata saat jadi dosen penguji naskah tesisku, "revisinya lewat email aja, ya. Bisa juga kamu print pakai kertas bekas, jadi dibaliknya gitu. Kasihan banyak pohon sudah jadi korban tesismu."
Mak jleb! Tertohok sekali rasanya saat beliau mengatakan kenyataan yang sesungguhnya. Revisi saat ujian selalu rawan menghabiskan banyak kertas. Akhirnya, karena merasa berdosa terhadap pohon-pohon itu, aku mendaur ulang kertas revisi tersebut jadi kertas daur ulang. Sebagian lagi aku jual ke pengepul barang bekas karena jujur aku belum sanggup untuk mendaur ulang semua kertas itu.
Kertas dan Pemanasan Global
Sampai detik ini, kertas merupakan salah satu bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan manusia yang semakin maju dan berkembang. Meskipun tren penggunaan media sosial dan paperless sedang gencar-gencarnya, permintaan kertas lokal maupun internasional justru makin meningkat pula. Hal ini disebabkan industri kertas sangat terkait dengan industri lainnya seperti percetakan, packaging, makanan, minuman, serta administrasi dalam pendidikan, perkantoran, dan sebagainya.
Apalagi sekarang kertas dianggap sebagai pengganti packaging plastik yang lebih ramah lingkungan. Padahal, menurut Kemenperin (2019), industri pulp dan kertas termasuk penyumbang terbesar gas rumah kaca, serta lahap energi karena mengonsumsi energi lebih dari 6.000 TOE. Selain itu, banyaknya konsumsi kertas juga akan mempengaruhi tingkat penebangan pohon.
Menurut Manurung dan Sukaria (2000), banyak perusahaan industri skala besar yang berupaya memperoleh bahan baku dari pasar gelap (illegal logging) yang berasal dari hutan alam. Hal itu disebabkan karena rencana pemerintah untuk mengembangkan Hutan Tanaman Industri (HTI) untuk menyediakan bahan baku industri kertas belum dapat mengatasi kelangkaan bahan baku. Adanya illegal logging sangat berpotensi untuk merusak hutan, lingkungan sekitar, dan pemicu pemanasan global.
Industri pulp dan kertas salah satu penyebab pemanasan global (sumber: Canva) |
Upaya Mengurangi Penggunaan Kertas
Banyak upaya yang dilakukan untuk mengurangi penggunaan kertas seperti:
1. Daur ulang kertas bekas
Meskipun hasilnya belum signifikan untuk menekan angka penggunaan kertas bekas, tapi daur ulang kertas bisa jadi sarana untuk mengurangi sampah kertas.
2. Paperless
Sama seperti dosenku, di era digital saat ini sudah banyak industri seperti buku yang menerbitkan buku digital. Selain itu juga banyak pelaku industri kreatif undangan yang mengalihkan undangan dalam bentuk digital.
3. Bahan baku alternatif
Alga adalah salah satu tanaman laut yang saat ini banyak diteliti dapat gantikan kayu sebagai bahan baku kertas. Salah satu penelitian menggunakan alga merah sebagai bahan baku pembuatan kertas. Pulp kertas yang dihasilkan jauh lebih bagus dibandingkan kayu. Prosesnya pun lebih mudah dan ramah lingkungan.
Alga Merah Sebagai Bahan Baku Kertas Ramah Lingkungan
Rumput laut selain digunakan sebagai bahan makanan dan kosmetik, ternyata ada jenis rumput laut tertentu yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku kertas. Salah satunya adalah alga merah atau Gelidium sp. Teknik ini pertama kali dikembangkan oleh peneliti Korea pada tahun 2004. Prosesnya lebih sederhana, membutuhkan sedikit energi dan proses pemutihan kertas lebih ramah lingkungan.
You (2008) melakukan penelitian dengan Gelidium amansii sebagai bahan baku pulp untuk kertas. Pada proses pembuatan pulp tersebut, limbah berupa ekstrak agar dapat dimanfaatkan lagi untuk industri makanan atau dijadikan bioetanol melalui proses fermentasi. Jadi seluruh prosesnya hampir minim limbah, sehingga lebih aman untuk lingkungan.
Bahan Baku Alga Merah
Jika pohon memerlukan waktu 10 tahun untuk tumbuh, alga merah hanya memerlukan waktu sekitar 3 bulan. Hal ini tentunya sangat dibutuhkan oleh industri pulp dan kertas yang mengejar target pemenuhan kebutuhan kertas secara global. Terlebih lagi, pertumbuhan alga merah tidak membutuhkan lahan daratan, dan pengambilan alga merah tidak sampai merusak lingkungan (Ik kyo Chung, 2010).
Komposisi kimia dari alga merah terdiri dari polisakarida, sedikit protein, lipid/lemak dan material anorganik. Sedangkan komponen fisik terdiri dari mucilaginous (material seperti agar atau karaginan) yang dengan mudah diekstrak dengan air panas dan sejumlah kecil endofiber atau material padat (Yun, dkk., 2009).
Alga merah jenis Gelidium amansii berpotensi untuk menghasilkan kertas berkualitas karena mempunyai karakteristik endofiber yang cocok untuk pulp berkualitas tinggi dan memiliki ketebalan yang sama. Oleh karena itu, saat ini Indonesia sedang bekerja sama denga peneliti Kore untuk mengembangkan Gelidium amansii sebagai bahan baku pembuatan kertas.
sumber gambar: Canva |
Proses Pembuatan
Setelah alga merah dicuci dan dibersihkan, proses selanjutnya adalah ekstraksi dan pemutihan. Bagi yang masih awam, contoh ekstraksi yang paling mudah adalah saat menyeduh teh. Teh merupakan campuran dari pelarut yaitu air dengan daun teh kering. Larutan teh adalah hasil ekstraksi air terhadap zat kafein yang terkandung dalam daun teh kering.
Pada proses pembuatan pulp dari alga merah, air panas sekitar 120⁰C-140⁰C dituang ke dalam alga merah kering dengan perbandingan 1:10. Setelah itu, akan didapatkan ekstrak agar. Setelah itu dilakukan pemutihan dua tahap dengan bahan kimia Klorin Dioksida (ClO2 ) dan Hidrogen Peroksida (H2O2) (Yung dkk., 2009 dan You, 2010).
Potensi Alga Merah di Indonesia untuk Industri Kertas
Gelidium amansii yang dikembangkan di Indonesia merupakan kerjasama antara Pegasus International Korea, Universitas Sam Ratulangi Manado, dan Pusat Pengembangan Budidaya Laut Kementerian Kelautan dan Perikanan di Lombok pada tahun 2011. Meskipun untuk budidaya awalnya Gelidium amansii dibawa dari Korea, ternyata tanaman tersebut dapat berkembang dengan baik di Indonesia.
Tentu saja hal ini jadi kabar baik untuk Indonesia beserta industri pulp dan kertas agar lebih ramah lingkungan dan mengurangi dampak pemanasan global. Dilansir dari IPOT News (2011),
Saat ini di Indonesia terdapat 14 industri pulp dari kayu dengan kapasitas 7,9 juta ton dan 79 industri kertas dengan kapasitas 12,7 juta ton. Jumlah tersebut berpotensi membuat lahan gundul apabila bahan baku tidak segera dialihkan dari kayu ke alga.
Dengan demikian, perlu dukungan pemerintah beserta stakeholder terkait untuk mendukung pembudidayaan alga merah, sosialisasi, dan komitmen dari pelaku industri pulp dan kertas. Penegakan hukum terkait penggunaan kayu berlebih yang mengakibatkan pemanasan global juga harus segera digalakkan. Sebab, hal ini terkait dengan dampak perubahan iklim yang semakin nyata terlihat bagi kehidupan umat manusia.
"Haruskah menunggu sampai hutan habis, baru kelabakan mencari solusi?"
Referensi
Ik Kyo Chung. 2010. Seaweed for Reducing Global Warming. Resume Seaweed International Business Forum and Exhibition (SEABFEX III)Surabaya. Pusan National University Korea - Kementerian Kelautan dan Perikanan, Jakarta
IPOT News. 2011. “Sekarang Momentum Kebangkitan Industri Pulp dan Kertas RI”, IPOT News. Journalism Database & Technology. Jakarta
You, Churl Hack. 2008. Partnership Opportunity in Developing Pulp & Paper Industry. Presented in Seaweed International Business Forum and Exhibition II-Makassar. Departemen Kelautan dan Perikanan. Jakarta.
You, Churl Hack. 2010. Practical Application of the Red Algae Pulp. Resume Seaweed International Business Forum and Exhibition (SEABFEXIII) III-Surabaya. Kementerian Kelautan dan Perikanan. Jakarta
Yung, Bum, Seo dkk., 2009. Red Algae and Their use in Papermaking., Bioresource Technology. Diakses dari www.elsevier.com/locate/biortech.
18 komentar
Bagus sekali kalau dosen atau pengajar dimana pun bisa bijak menggunakan kertas. Hanya saranku, kalau untuk anak usia sekolah dasar, menulis di atas kertas tetap penting.
Tapi kalau sudah kuliah apalagi untuk jurusan tertentu, tentu akan lebih bijak bila paperless yaa..
Ini jadi pengetahuan baru nih kak Anggi buat aku
Kertas dari alga merah bisa jadi solusi ramah lingkungan